Metodologi Studi Islam



MAKALAH
BEBERAPA PENDEKATAN STUDI ISLAM

Disusun Guna Memenuhi Tugas Akademik
Mata Kuliah: Metodologi Studi Islam
Dosen pangampu: Bapak Jiyanto, M. Pd.I.



                                                              


Disusun oleh:
1.
Muhammad Fajar W.P
(182111036)
2.
Miftah Maulina
(182111051)
3.
Lintang Ngesti R.K
(182111057)

JURUSAN HUKUM EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018/2019
DAFTAR ISI


Halaman Judul..................................................................................................................... 0
Daftar Isi............................................................................................................................. 1
BAB I PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang Masalah.......................................................................................... 2
2.     Rumusan Masalah................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A.  Definisi Studi Islam................................................................................................. 4
B.  Pentingnya Pendekatan dalam Memahami Agama................................................. 4
C.  Berbagai Pendekatan dalam Studi Islam................................................................. 7
1.      Pendekatan Teologis......................................................................................... 7
2.      Pendekatan Antropologis................................................................................. 8
3.      Pendekatan Sosiologis...................................................................................... 9
4.      Pendekatan Filosofis........................................................................................ 10
5.      Pendekatan Historis.......................................................................................... 10
6.      Pendekatan Kebudayaan.................................................................................. 11
7.      Pendekatan Psikologis...................................................................................... 12
8.      Pendekatan Interdisipliner................................................................................ 13
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 16






BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekadar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekadar disampaikan dalam khotbah, melainkan secara konsepsional menunjukan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawabkan manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normatif dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pedekatan lain, yang secara operasional konseptual, dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.
Berkenaan dengan pemikiran diatas, maka pada makalah ini pembaca akan diajak untuk mengkaji berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam memahami agama. Hal demikian perlu dilakukan, karena melalui pendekatan tersebut kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan oleh penganutnya, sebaliknya tanpa mengetahui berbagai pendekatan tersebut, tidak mustahil agama menjadi sulit dipahami oleh masyarakat tidak fungsional, dan akhirnya masyarakat mencari pemecahan masalah kepada selain agama, dan hal ini tidak boleh terjadi.[1]





B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1.    Apa yang dimaksud Pendekatan Teologis?
2.    Apa yang dimaksud Pendekatan Antropologis?
3.    Apa yang dimaksud Pendekatan Sosiologis?
4.    Apa yang dimaksud Pendekatan Filosofis?
5.    Apa yang dimaksud Pendekatan Historis?
6.    Apa yang dimaksud Pendekatan Kebudayaan?
7.    Apa yang dimaksud Pendekatan Psikologis?
8.    Apa yang dimaksud Pendekatan Interdisipliner?
















BAB II
PEMBAHASAN

A.  Definisi Studi Islam
Studi Islam atau Studi Keislaman (Islamic Studies) merupakan suatu disiplin ilmu yang membahas Islam, baik sebagai ajaran, kelembagaan, sejarah, maupun kehidupan umatnya. Studi Islam ialah pengetahuan yang dirumuskan dari ajaran Agama Islam yang diterjemahkan dalam sejarah dan kehidupan manusia.[2] 
B.  Pentingnya Pendekatan (Approach ) dalam Memahami Agama
Islam merupakan sebuah sistem universal yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam islam segala hal yang mencakup kebutuhan manusia, dipenuhi secara lengkap. Semuanya diarahkan agar manusia mampu menjalani kehidupan yang lebih baik dan manusiawi sesuai kodrat kemanusiaannya ( Hasan al- Banna, 1982:2 ). Jika hal itu dilakukan, maka akan selamat dalam kehidupan dunia dan akhirat. Sebagai sebuah sistem, islam memiliki sumber ajaran yang lengkap, yakni Alquran dan Hadis. Rasulullah menjamin, jika seluruh manusia memegang teguh Alquran dan Hadis dalam kehidupannya, maka ia tidak akan pernah tersesat selama-lamanya (HR. Muslim). Alquran, dipandang sebagai sumber ajaran dan sumber hukum Islam yang pertama dan utama, sedangkan hadis merupakan sumber hukum kedua setelah Alquran.
Nilai kebenaran Alquran bersifat mutlak (absolut, qath’i), karena Alquran merupakan wahyu Allah yang sangat transendental, sangat agung, mengandung mukjizat, dan tidak akan ada seorang pun yang mampu membuat tandingannya. Hadis sebagai sumber hukum kedua setelah Alquran merupakan sabda, perilaku, dan ketetepan Rasullah yang tidak mungkin keliru. Persoalan kebenaran hadis terletak pada periwayatannya yang lemah (daif) dan ada yang kuat dan bisa dijadikan sebagai hujjah (shahih dan hasan). Hadis yang dilalahnya qath’i, kebenarannya dinilai mutlak, sedangkan yang dilalahnya dzanni menjadi relatif, bahkan menjadi wacana pemikiran islam yang tidak  pernah selesai.
Ketika Alquran dan Hadis dipahami dan dijadikan sebagai objek kajian, maka muncullah penafsiran, pemahaman, dan pemikiran.demikian lahirlah berbagai ilmu Islam yang kemudian disebut “Dirasah Islamiyyah”, Studi Islam atau Islamic Studies. Jika Alquran dan Hadis dipahami dalam bentuk pengetahuan Islam, maka kebenaranya berubah menjadi relatif, dan tidak lagi mutlak. Hal ini karena pemahaman, pemikiran, dan penafsiran merupakan hasil upaya manusia dalam mendekati kebenaran yang dinyatakan dalam wahyu Allah (Alquran) dan Sunnah Rasulullah saw. Karena produk manusia maka hasilnya relatif bisa benar, tapi juga bisa salah. Bisa benar untuk waktu tertentu, tapi tidak untuk waktu yang lain.
Untuk memahami Alquran dan Hadis sebagai sumber ajaran Islam, maka diperlukan berbagai pendekatan metodologi pemahaman Islam yang tepat, akurat, dan responsible. Dengan demikian, diharapkan Islam sebagai sebuah sistem ajaran yang bersumber pada Alquran dan Hadis, dapat dipahami secara komprehensif.
Seiring dengan perkembangan zaman yang selalu berubah dan disertai dengan munculnya berbagai persoalan baru dalam kehidupan manusia, maka menjadi sebuah keniscayaan untuk memahami agama sesuai dengan zamannya. Oleh karena itu, berbagai pendekatan dalam memahami agama yang bersumber dari Alquran dan Hadis memiliki peran yang sangat strategis. Dengan demikian, pemahaman umat Islam dan pemerhati agama akan semakin komprehensif dan akan bersikap sangat toleran dengan perbedaan pemahaman.
Saat ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak  boleh hanya sekadar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekadar disampaikan dalam khutbah, melainkan secara konseptual menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Harapan dan tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normatif dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain yang secara operasional konseptual dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.
Studi agama pada akhir-akhir ini telah mengalami perkembangan cukup pesat, seiring dengan semakin beragamnya objek kajian dan metode kajian. Sebagai objek kajian, Agama Islam dapat diposisikan sebagai doktrin, realitas sosial atau fakta sosial. Kajian yang memposisikan agama sebagai doktrin menggunakan pendekatan teologis (normatif), sedangkan kajian yang memposisikan agama sebagai realitas sosial lebih tepat menggunakan pendekatan ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, sejarah, hermeneutika, dan lain-lain.
Terdapat beberapa istilah yang mempunyai arti hampir sama dan menunjukkan tujuan yang sama dengan pendekatan, yakni theoritical framework, conceptual framework, approach, perspective, point of view dan paradigm. Semua istilah ini dapat diartikan sebagai cara memandang dan cara menjelaskan sesuatu gejala atau peristiwa. Pengertian pendekatan memiliki dua orientasi, pertama, dan masih terbagi dua berarti “dipandang” atau “dihampiri dengan”, dan “menghampiri”, pendekatan menjadi “perspektif” atau “sudut pandang”. Kedua, pendekatan berarti “disiplin ilmu”.
Dengan demikian, ketika disebut studi Islam dengan pendekatan sosiologis, berarti mengkaji Islam dengan menggunakan disiplin ilmu sosial (sosiologi). Konsekuensinya, pendekatan di sini menggunkaan teori-teori dari disiplin ilmu yang dijadikan sebagai pendekatan. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi tersebut berarti fenomena studi Islam didekati dengan teori-teori sosiologi (Hadidjah dan Maman Karman Al-Kuniganiy, 2008:51).
Artinya, jika Islam dilihat dari segi normatif, Islam lebih merupakan agama yang dapat berlaku kepada paradigm ilmu pengetahuan yaitu paradigm analisis, kritis. Sedangkan jika dilihat dari segi historis, Islam dapat dikatakan sebagai disiplin ilmu, karena ia dipraktikan oleh manusia dan tumbuh serta berkembang dalam kehidupan manusia, sehingga ia bisa disebut sebagai ilmu keislaman atau Islamic studies.
Berdasarkan uraian di atas studi terhadap Islam diperlukan metodelogi dan pendekatan yang tepat agar dihasilkan suatu kesimpulan mengenai Islam dalam keseluruhan aspek ajarannya secara tepat pula. Baik mengenai Islam sebagai sumber ajaran, sebagai pemahaman, maupun sebagai pengalaman. Termasuk di dalamnya ialah bagaimana cara yang cepat dan tepat mempelajari sumber pokok ajaran Islam, yaitu Alquran dan Sunnah. Selain itu, dalam memahami masalah agama tidak saja diperlukan pendekatan kaidah-kaidah ilmiah tapi juga diperlukan pendekatan imaniah, yakni yang berdasar pada keyakinan dan keimanan. [3]
C.  Berbagai Pendekatan dalam Studi Islam
1.    Pendekatan Teologis
Pendektan teologi normatif dalam memahami agama dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan behwa wujud empiris dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.[4]
Pendekatan teologis dalam memahami agama cenderung bersikap tertutup. Tidak ada dialog, parsial, saling menyalahkan, saling mengafirkan, yang pada akhirnya terjadi pergolakan umat, tidak ada kerjasama dan tidak terlihat adanya kepedulian sosial. Melalui pendekatan teologis ini, agama menjadi batu terhadap masalah-masalah sosial dan cenderung menjadi lambang atau identitas yang tidak memiliki makna.
Pendekatan teologis dalam memahami agama menggunakana cara berfikir dedukatif, yaitu cara berfikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini  dan mutlak adanya, karena ajaran yang berasal dari Tuhan, sudah pasti benar, dan tidak perlu ditanyakan lebih dahulu, melainkan dimulai dari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi.
Pendekatan teologis ini, selanjutnya erat kaitannya dengan pendekatan normatif, yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan yang didalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologis ini, agama dilihat sebagai suatu kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada kekurangan sedikitpun dan tampak bersikap ideal.[5]
2.    Pendekatan Antropologis
Salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini, agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan mamberikan jawabannya. Dengan kata lain, cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. Antropologis dalam hal ini, sebagaimana dikatakan Dewan Rahardjo, lebih menutamakan pengamatan langsung, bahkan bersifat partisipatif.[6]
   Melalui pendekatan antropologis kita dapat melihat bahwa  agama ternyata berkolerasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, jika ingin mengubah pendorongan  dan sikap etos kerja seseorang, kita mengubah pandangan keagamaannya. Melalui pendekatan antropologis dapat dilihat hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia dan dengan itu pula, agama terlihat akrab dan fungsional dengan berbagai fenomena kehidupan manusia.
   Pendekatan antropologis seperti itu diperlukan, sebab banyak hal yang dibicarakan agama hanya bisa dijelaskan dengan tuntas melalui pendekatan antropologis. Dalam Alquran sebagai sumber utama ajaran Islam misalnya, kita memperoleh informasi tentang kapal Nabi Nuh di Gunung Arafat, kisah Ashabul Kahfi yang dapat bertahan hidup dalam gua lebih dari tiga ratus tahun lamanya. Dimana kira-kira bangkai kapal Nabi Nuh itu,  dan dimana kira kira gua itu dan bagaimana bisa terjadi hal yang menakjubkan itu, ataukah hal yang demikian merupakan kisah fiktif? Tentu masih banyak  lagi contoh lain yang hanya dapat dijelaskan dengan bantuan ahli geografi dan arkeologi.
   Dengan demikian, pendekatan antropologis sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama,karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan melalui ilmu antropologis dengan cabang cabangnya.[7]
3.    Pendekatan Sosiologi
Sosiologi adalah suatu ilmu yang menggambarkan keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial yang saling berkaitan.
Sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal ini dapat dimengerti karena banyak kajian agama yang baru dapat dipahami secara profesional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi. Dalam ajaran Islam dapat dijumpai peristiwa Nabi Yusuf yang dahulu budak lalu akhirnya bisa menjadi penguasa di Mesir. Mengapa dalam melaksanakan tugasnya Nabi Musa harus dibantu dengan Nabi Harun dan masih banyak lagi contoh yang lain. Beberapa peristiwa tersebut sulit dijelaskan dan dipahami maksudnya. Di sinilah peran sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami ajaran agama.[8]
Melalui pendekatan sosiologi, agama dapat dipahami dengan mudah karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. Dalam Alquran misalnya, kita jumpai ayat-ayat berkenaan dengan hubungan manusia lainnya, sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kemakmuran suatu bangsa,  dan sebab-sebab yang menyebabkan kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya mengetahui sejarah sosial pada saat ajaran itu diturunkan. [9]
4.    Pendekatan Filosofis
Pada dasarnya filsafat adalah berpikiran untuk memecahkan masalah atau pertanyaan dan jawaban suatu persoalan. Namun demikian, tidak semua berpikir untuk memecahkan dan menjawab permasalahan dapat disebut filsafat atau dengan kata lain filsafat adalah pertanyaan atas segala hal yang “ada”. Artinya, filsafat pada intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada dibalik objek formanya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas, dan inti yang terdapat di balik yang bersifat lahiriah (Abuddin Nata, 2007:42).
Berpikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam memahami ajaran agama dengan maksud agar hikmah, hakikat, atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama. Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama yang bersifat formalitas, yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Dengan menggunakan pendekatan filosofis ini seseorang akan dapat memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya dan dapat pula menangkap hikmah dan ajaran yang terkandung di dalamnya.[10]
5.    Pendekatan Historis
Pendekatan historis, yang dimaksud adalah meninjau suatu permasalahan dari sudut tinjauan sejarah, dan menjawab permasalahan, serta menganalisisnya dengan menggunakan metode analisis sejarah. Sejarah atau histori adalah studi yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian masa lalu yang menyangkut kejadian atau keadaan yang sebenarnya. Sejarah memang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa masa lalu, namun peristiwa masa lalu tersebut hanya berarti dapat dipahami dari sudut tinjauan masa kini, dan ahli sejarah-sejarah dapat benar-benar memahami kejadian dan peristiwa masa kini hanya dengan petunjuk-petunjuk dari peristiwa dan kejadian masa lalu tersebut. [11]
Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini, Kontowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini islam, menurut pendekatan sejarah
Melalui pendekatan sejarah ini, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini, seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historisya karena pemahaman seperti itu akan menyesatkan orang yang memahaminya. Seseorang yang ingin memahami Alquran secara benar misalnya. Seseorang yang bersangkutan tersebut harus mempelajari sejarah turunnya Alquran atau kejadian yang mengiringi turunnya Alquran yang kemudian disebut ilmu Asbab al-Nuzul (Ilmu tentang sebab-sebab turunnya ayat-ayat alquran). Dengan ilmu ini, seseorang dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenan dengan hokum tertentu dan ditunjukkan untuk memelihara syariat dari kekeliruan memahaminya (Manna Khalil al-Qaththan, 2006:79).  [12]
6.    Pendekatan Kebudayaan
 Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat. Menurut Sultan Takdir Alisjahbana mengatakan kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang terjadi dari unsur berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan segala kecakapan lain, yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. [13]
Dengan demikian kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan menggerakkan segenap potensi batin yang dimilikinya. Di dalam kebudayaan terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istiadat dan sebagainya yang digunakan acuan oleh seseorang dalam menjawab berbagai masalah yang dihadapinya. Kebudayaan tampil sebagai pranata secara terus menerus dipelihara pembentukkannya dan generasi selanjutnya yang diwarisi kebudayaan  tersebut.
Kebudayaan digunakan untuk memahami apa yang terdapat pada dataran empirisnya atau agama yang tampil dalam bentuk formal yang menggejala di masyarakat. Melalui pemahaman terhadap kebudayaan tersebut, seorang dapat mengamalkan ajaran agama. Kita misalnya, menjumpai kebudayaan berpakaian, bergaul, bermasyarakat, dan sebagainya kedalam produk kebudayaan tersebut, unsur agama ikut berintegrasi. Dalam pakaian model hijab, kebaya atau lainnya dapat dijumpai dalam pengalaman agama. Sebaliknya, tanpa adanya unsur budaya, agama akan sulit dilihat sosoknya secara jelas. Di DKI Jakarta misalnya, kita jumpai kaum prianya ketika menikah mengenakan baju ala Arab, sedangkan wanitanya mengenakan baju ala Cina. Disitu terlihat produk budaya yang berbeda yang dipengaruhi oleh pemahaman keagamaannya.[14]
7.    Pendekatan Psikologi
Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa seorang melalui gejala perilaku yang dapat diamatinya. Menurut Zakiah Daradjad, perilaku seseorang yang tanpa lahiriah karena dipengaruhi keyakinan yang dianutnya. Sikap seorang ketika berjumpa saling mengucapkan salam, menutup aurat dan sebagainya merupakan gejala keagamaan yang dijelaskan melalui ilmu jiwa agama. [15]
Dengan mengetahui pengaruh salat, puasa, zakat, haji dan lain-lain melalui ilmu jiwa dapat disusun langkah-langkah baru yang efisien lagi dalam menanamkan ajaran agama. Itulah sebabnya, ilmu jiwa ini banyak digunakan sebagai alat untuk menjelaskan gejala sikap keagamaan seseorang.
Sumber pokok untuk mengumpulkan data ilmiah dapat diambil dari :
1.      Pengalaman dari orang-orang yang masih hidup.
2.      Apa yang kita capai dengan meneliti diri kita sendiri.
3.      Riwayat hidup yang ditulis sendiri oleh orang yang bersangkutan/yang ditulis oleh para ahli agama.
8.    Pendekatan Interdisipliner
Pendekatan interdisipliner adalah kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan atau sejumlah pendekatan atau sudut pandang (prespektif). Misalnya menggunakan pendekatan sosiologis, historis dan normatif secara bersama. Pentingnya penggunaan pendekatan ini semakin disadari keterbatasan dari hasil-hasil penelitian yang hanya menggunakan satu pendekatan tertentu. [16]
Misalnya dalam mengkaji teks agama, seperti al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan tekstual, tetapi bisa dilengkapi dengan pendekatan sosiologis dan historis sekaligus. Demikian juga dalam menyelesaikan hukum (status) ternak, pertanian, dan semacamnya. Untuk menetapkan hukumya harus dipahami lebih dahulu secara lengkap dari sisi ilmu peternakan atau pertanian. Kemudian ditetapkan status hukumnya.
Contoh dengan pendekatan ini adalah ketika ingin mengetahui sisten kekeluargaan apa yang hendak dibangun islam dengan menggunakan pendekatan antropologi-sosial yang dilakukan Hazairin. Dapat disimpulkan bahwa sistem kekeluargaan yang hendak dibangun Islam adalah sistem bilateral atau parental.
Cara kerja pendekatan ini adalah melacak ayat Alquran yang berbicara wanita-wanita yang boleh dinikahi dan ayat Alquran yang membicarakan warisan. Kemudian bahasan dilanjutkan dengan menelaah sistem kekeluargaan yang berlaku dalam masyarakat lengkap dengan ciri masing-masing. Berdasarkan ciri-ciri ini kemudian dicarikan sistem mana yang cocok dengan ciri yang dibangun Islam. Berdasarkan kajian yang dilakukan ternyata Islam hendak membangun masyarakat bilateral.
Contoh lain penggunaan pendekatan Interdisipliner adalah dalam menjawab status hukum aborsi. Untuk melihat status hukum aborsi perlu dilacak nash Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW tentang larangan pembunuhan anak dan proses atau tahap-tahap penciptaan manusia. Sebab, tindakan aborsi diidentikkan dengan tindakan pembunuhan anak. Dalam memahami proses penciptaan manusia dihubungkan dengan teori embriologi.[17]



















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Islam merupakan sebuah sistem universal yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Sebagai sebuah sistem, Islam memiliki sumber ajaran yang lengkap, yakni Alquran dan Hadis. Untuk memahami Alquran dan Hadis sebagai sumber ajaran Islam, maka diperlukan berbagai pendekatan metodologi pemahaman Islam yang tepat, akurat, dan responsible.
Saat ini, kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Harapan dan tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normatif dilengkapai dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain yang secara operasional konseptual dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.
Dalam melakukan studi terhadap islam diperlukan metodologi dan pendekatan yang tepat agar dihasilkan suatu kesimpulan mengenai islam dalam keseluruhan aspek ajarannya secara tepat. Dari uraian tersebut, kita dapat melihat bahwa agama dapat dipahami melalui berbagai pendekatan. Dengan pendekatan itu, semua orang akan sampai pada agama. Agama bukan hanya monopoli kalangan teologi dan normatif belaka tetapi dapat dipahami semua orang sesuai dengan pendekatan dan kesanggupan yang dimilikinya. Dari keadaan demikian, seseorang akan memiliki kepuasan dari agama karena seluruh persoalan hidupnya mendapat bimbingan dari agama.





DAFTAR PUSTAKA

Tabrani. 2015. Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Muhaimin. 2012. Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan. Jakarta: Kencana.
Anwar, Rosihin dkk. 2017. Pengantar Studi Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.




[1] Tabrani, Arah Baru Metodologi Studi Islam (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015), hlm.


[2] Tabrani, Arah Baru Metodologi Studi Islam (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015), hlm.
[3] Tabrani, Arah Baru Metodologi Studi Islam (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015), hlm.
[4] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 72-79
[5] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 72-79.
[6] Ibid, hlm. 79-82.
[7] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 79-82.
[8] Ibid, hlm. 83-86.
[9] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 83-86.
[10] Muhaimin, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan (Jakarta: Kencana, 2012), hlm. 13.
[11] Muhaimin, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan (Jakarta: Kencana, 2012), hlm. 12-13
[12] Tabrani, Arah Baru Metodologi Studi Islam (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015), hlm.
[13] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 92-93.
[14] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 92-93.
[15] Ibid, hlm. 93-95.
[16] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 221-225.
[17] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 221-225.
MAKALAH
BEBERAPA PENDEKATAN STUDI ISLAM

Disusun Guna Memenuhi Tugas Akademik
Mata Kuliah: Metodologi Studi Islam
Dosen pangampu: Bapak Jiyanto, M. Pd.I.



                                                              


Disusun oleh:
1.
Muhammad Fajar W.P
(182111036)
2.
Miftah Maulina
(182111051)
3.
Lintang Ngesti R.K
(182111057)

JURUSAN HUKUM EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018/2019
DAFTAR ISI


Halaman Judul..................................................................................................................... 0
Daftar Isi............................................................................................................................. 1
BAB I PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang Masalah.......................................................................................... 2
2.     Rumusan Masalah................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A.  Definisi Studi Islam................................................................................................. 4
B.  Pentingnya Pendekatan dalam Memahami Agama................................................. 4
C.  Berbagai Pendekatan dalam Studi Islam................................................................. 7
1.      Pendekatan Teologis......................................................................................... 7
2.      Pendekatan Antropologis................................................................................. 8
3.      Pendekatan Sosiologis...................................................................................... 9
4.      Pendekatan Filosofis........................................................................................ 10
5.      Pendekatan Historis.......................................................................................... 10
6.      Pendekatan Kebudayaan.................................................................................. 11
7.      Pendekatan Psikologis...................................................................................... 12
8.      Pendekatan Interdisipliner................................................................................ 13
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 16






BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekadar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekadar disampaikan dalam khotbah, melainkan secara konsepsional menunjukan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawabkan manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normatif dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pedekatan lain, yang secara operasional konseptual, dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.
Berkenaan dengan pemikiran diatas, maka pada makalah ini pembaca akan diajak untuk mengkaji berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam memahami agama. Hal demikian perlu dilakukan, karena melalui pendekatan tersebut kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan oleh penganutnya, sebaliknya tanpa mengetahui berbagai pendekatan tersebut, tidak mustahil agama menjadi sulit dipahami oleh masyarakat tidak fungsional, dan akhirnya masyarakat mencari pemecahan masalah kepada selain agama, dan hal ini tidak boleh terjadi.[1]





B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1.    Apa yang dimaksud Pendekatan Teologis?
2.    Apa yang dimaksud Pendekatan Antropologis?
3.    Apa yang dimaksud Pendekatan Sosiologis?
4.    Apa yang dimaksud Pendekatan Filosofis?
5.    Apa yang dimaksud Pendekatan Historis?
6.    Apa yang dimaksud Pendekatan Kebudayaan?
7.    Apa yang dimaksud Pendekatan Psikologis?
8.    Apa yang dimaksud Pendekatan Interdisipliner?
















BAB II
PEMBAHASAN

A.  Definisi Studi Islam
Studi Islam atau Studi Keislaman (Islamic Studies) merupakan suatu disiplin ilmu yang membahas Islam, baik sebagai ajaran, kelembagaan, sejarah, maupun kehidupan umatnya. Studi Islam ialah pengetahuan yang dirumuskan dari ajaran Agama Islam yang diterjemahkan dalam sejarah dan kehidupan manusia.[2] 
B.  Pentingnya Pendekatan (Approach ) dalam Memahami Agama
Islam merupakan sebuah sistem universal yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam islam segala hal yang mencakup kebutuhan manusia, dipenuhi secara lengkap. Semuanya diarahkan agar manusia mampu menjalani kehidupan yang lebih baik dan manusiawi sesuai kodrat kemanusiaannya ( Hasan al- Banna, 1982:2 ). Jika hal itu dilakukan, maka akan selamat dalam kehidupan dunia dan akhirat. Sebagai sebuah sistem, islam memiliki sumber ajaran yang lengkap, yakni Alquran dan Hadis. Rasulullah menjamin, jika seluruh manusia memegang teguh Alquran dan Hadis dalam kehidupannya, maka ia tidak akan pernah tersesat selama-lamanya (HR. Muslim). Alquran, dipandang sebagai sumber ajaran dan sumber hukum Islam yang pertama dan utama, sedangkan hadis merupakan sumber hukum kedua setelah Alquran.
Nilai kebenaran Alquran bersifat mutlak (absolut, qath’i), karena Alquran merupakan wahyu Allah yang sangat transendental, sangat agung, mengandung mukjizat, dan tidak akan ada seorang pun yang mampu membuat tandingannya. Hadis sebagai sumber hukum kedua setelah Alquran merupakan sabda, perilaku, dan ketetepan Rasullah yang tidak mungkin keliru. Persoalan kebenaran hadis terletak pada periwayatannya yang lemah (daif) dan ada yang kuat dan bisa dijadikan sebagai hujjah (shahih dan hasan). Hadis yang dilalahnya qath’i, kebenarannya dinilai mutlak, sedangkan yang dilalahnya dzanni menjadi relatif, bahkan menjadi wacana pemikiran islam yang tidak  pernah selesai.
Ketika Alquran dan Hadis dipahami dan dijadikan sebagai objek kajian, maka muncullah penafsiran, pemahaman, dan pemikiran.demikian lahirlah berbagai ilmu Islam yang kemudian disebut “Dirasah Islamiyyah”, Studi Islam atau Islamic Studies. Jika Alquran dan Hadis dipahami dalam bentuk pengetahuan Islam, maka kebenaranya berubah menjadi relatif, dan tidak lagi mutlak. Hal ini karena pemahaman, pemikiran, dan penafsiran merupakan hasil upaya manusia dalam mendekati kebenaran yang dinyatakan dalam wahyu Allah (Alquran) dan Sunnah Rasulullah saw. Karena produk manusia maka hasilnya relatif bisa benar, tapi juga bisa salah. Bisa benar untuk waktu tertentu, tapi tidak untuk waktu yang lain.
Untuk memahami Alquran dan Hadis sebagai sumber ajaran Islam, maka diperlukan berbagai pendekatan metodologi pemahaman Islam yang tepat, akurat, dan responsible. Dengan demikian, diharapkan Islam sebagai sebuah sistem ajaran yang bersumber pada Alquran dan Hadis, dapat dipahami secara komprehensif.
Seiring dengan perkembangan zaman yang selalu berubah dan disertai dengan munculnya berbagai persoalan baru dalam kehidupan manusia, maka menjadi sebuah keniscayaan untuk memahami agama sesuai dengan zamannya. Oleh karena itu, berbagai pendekatan dalam memahami agama yang bersumber dari Alquran dan Hadis memiliki peran yang sangat strategis. Dengan demikian, pemahaman umat Islam dan pemerhati agama akan semakin komprehensif dan akan bersikap sangat toleran dengan perbedaan pemahaman.
Saat ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak  boleh hanya sekadar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekadar disampaikan dalam khutbah, melainkan secara konseptual menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Harapan dan tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normatif dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain yang secara operasional konseptual dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.
Studi agama pada akhir-akhir ini telah mengalami perkembangan cukup pesat, seiring dengan semakin beragamnya objek kajian dan metode kajian. Sebagai objek kajian, Agama Islam dapat diposisikan sebagai doktrin, realitas sosial atau fakta sosial. Kajian yang memposisikan agama sebagai doktrin menggunakan pendekatan teologis (normatif), sedangkan kajian yang memposisikan agama sebagai realitas sosial lebih tepat menggunakan pendekatan ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, sejarah, hermeneutika, dan lain-lain.
Terdapat beberapa istilah yang mempunyai arti hampir sama dan menunjukkan tujuan yang sama dengan pendekatan, yakni theoritical framework, conceptual framework, approach, perspective, point of view dan paradigm. Semua istilah ini dapat diartikan sebagai cara memandang dan cara menjelaskan sesuatu gejala atau peristiwa. Pengertian pendekatan memiliki dua orientasi, pertama, dan masih terbagi dua berarti “dipandang” atau “dihampiri dengan”, dan “menghampiri”, pendekatan menjadi “perspektif” atau “sudut pandang”. Kedua, pendekatan berarti “disiplin ilmu”.
Dengan demikian, ketika disebut studi Islam dengan pendekatan sosiologis, berarti mengkaji Islam dengan menggunakan disiplin ilmu sosial (sosiologi). Konsekuensinya, pendekatan di sini menggunkaan teori-teori dari disiplin ilmu yang dijadikan sebagai pendekatan. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi tersebut berarti fenomena studi Islam didekati dengan teori-teori sosiologi (Hadidjah dan Maman Karman Al-Kuniganiy, 2008:51).
Artinya, jika Islam dilihat dari segi normatif, Islam lebih merupakan agama yang dapat berlaku kepada paradigm ilmu pengetahuan yaitu paradigm analisis, kritis. Sedangkan jika dilihat dari segi historis, Islam dapat dikatakan sebagai disiplin ilmu, karena ia dipraktikan oleh manusia dan tumbuh serta berkembang dalam kehidupan manusia, sehingga ia bisa disebut sebagai ilmu keislaman atau Islamic studies.
Berdasarkan uraian di atas studi terhadap Islam diperlukan metodelogi dan pendekatan yang tepat agar dihasilkan suatu kesimpulan mengenai Islam dalam keseluruhan aspek ajarannya secara tepat pula. Baik mengenai Islam sebagai sumber ajaran, sebagai pemahaman, maupun sebagai pengalaman. Termasuk di dalamnya ialah bagaimana cara yang cepat dan tepat mempelajari sumber pokok ajaran Islam, yaitu Alquran dan Sunnah. Selain itu, dalam memahami masalah agama tidak saja diperlukan pendekatan kaidah-kaidah ilmiah tapi juga diperlukan pendekatan imaniah, yakni yang berdasar pada keyakinan dan keimanan. [3]
C.  Berbagai Pendekatan dalam Studi Islam
1.    Pendekatan Teologis
Pendektan teologi normatif dalam memahami agama dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan behwa wujud empiris dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.[4]
Pendekatan teologis dalam memahami agama cenderung bersikap tertutup. Tidak ada dialog, parsial, saling menyalahkan, saling mengafirkan, yang pada akhirnya terjadi pergolakan umat, tidak ada kerjasama dan tidak terlihat adanya kepedulian sosial. Melalui pendekatan teologis ini, agama menjadi batu terhadap masalah-masalah sosial dan cenderung menjadi lambang atau identitas yang tidak memiliki makna.
Pendekatan teologis dalam memahami agama menggunakana cara berfikir dedukatif, yaitu cara berfikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini  dan mutlak adanya, karena ajaran yang berasal dari Tuhan, sudah pasti benar, dan tidak perlu ditanyakan lebih dahulu, melainkan dimulai dari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi.
Pendekatan teologis ini, selanjutnya erat kaitannya dengan pendekatan normatif, yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan yang didalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologis ini, agama dilihat sebagai suatu kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada kekurangan sedikitpun dan tampak bersikap ideal.[5]
2.    Pendekatan Antropologis
Salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini, agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan mamberikan jawabannya. Dengan kata lain, cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. Antropologis dalam hal ini, sebagaimana dikatakan Dewan Rahardjo, lebih menutamakan pengamatan langsung, bahkan bersifat partisipatif.[6]
   Melalui pendekatan antropologis kita dapat melihat bahwa  agama ternyata berkolerasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, jika ingin mengubah pendorongan  dan sikap etos kerja seseorang, kita mengubah pandangan keagamaannya. Melalui pendekatan antropologis dapat dilihat hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia dan dengan itu pula, agama terlihat akrab dan fungsional dengan berbagai fenomena kehidupan manusia.
   Pendekatan antropologis seperti itu diperlukan, sebab banyak hal yang dibicarakan agama hanya bisa dijelaskan dengan tuntas melalui pendekatan antropologis. Dalam Alquran sebagai sumber utama ajaran Islam misalnya, kita memperoleh informasi tentang kapal Nabi Nuh di Gunung Arafat, kisah Ashabul Kahfi yang dapat bertahan hidup dalam gua lebih dari tiga ratus tahun lamanya. Dimana kira-kira bangkai kapal Nabi Nuh itu,  dan dimana kira kira gua itu dan bagaimana bisa terjadi hal yang menakjubkan itu, ataukah hal yang demikian merupakan kisah fiktif? Tentu masih banyak  lagi contoh lain yang hanya dapat dijelaskan dengan bantuan ahli geografi dan arkeologi.
   Dengan demikian, pendekatan antropologis sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama,karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan melalui ilmu antropologis dengan cabang cabangnya.[7]
3.    Pendekatan Sosiologi
Sosiologi adalah suatu ilmu yang menggambarkan keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial yang saling berkaitan.
Sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal ini dapat dimengerti karena banyak kajian agama yang baru dapat dipahami secara profesional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi. Dalam ajaran Islam dapat dijumpai peristiwa Nabi Yusuf yang dahulu budak lalu akhirnya bisa menjadi penguasa di Mesir. Mengapa dalam melaksanakan tugasnya Nabi Musa harus dibantu dengan Nabi Harun dan masih banyak lagi contoh yang lain. Beberapa peristiwa tersebut sulit dijelaskan dan dipahami maksudnya. Di sinilah peran sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami ajaran agama.[8]
Melalui pendekatan sosiologi, agama dapat dipahami dengan mudah karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. Dalam Alquran misalnya, kita jumpai ayat-ayat berkenaan dengan hubungan manusia lainnya, sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kemakmuran suatu bangsa,  dan sebab-sebab yang menyebabkan kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya mengetahui sejarah sosial pada saat ajaran itu diturunkan. [9]
4.    Pendekatan Filosofis
Pada dasarnya filsafat adalah berpikiran untuk memecahkan masalah atau pertanyaan dan jawaban suatu persoalan. Namun demikian, tidak semua berpikir untuk memecahkan dan menjawab permasalahan dapat disebut filsafat atau dengan kata lain filsafat adalah pertanyaan atas segala hal yang “ada”. Artinya, filsafat pada intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada dibalik objek formanya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas, dan inti yang terdapat di balik yang bersifat lahiriah (Abuddin Nata, 2007:42).
Berpikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam memahami ajaran agama dengan maksud agar hikmah, hakikat, atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama. Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama yang bersifat formalitas, yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Dengan menggunakan pendekatan filosofis ini seseorang akan dapat memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya dan dapat pula menangkap hikmah dan ajaran yang terkandung di dalamnya.[10]
5.    Pendekatan Historis
Pendekatan historis, yang dimaksud adalah meninjau suatu permasalahan dari sudut tinjauan sejarah, dan menjawab permasalahan, serta menganalisisnya dengan menggunakan metode analisis sejarah. Sejarah atau histori adalah studi yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian masa lalu yang menyangkut kejadian atau keadaan yang sebenarnya. Sejarah memang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa masa lalu, namun peristiwa masa lalu tersebut hanya berarti dapat dipahami dari sudut tinjauan masa kini, dan ahli sejarah-sejarah dapat benar-benar memahami kejadian dan peristiwa masa kini hanya dengan petunjuk-petunjuk dari peristiwa dan kejadian masa lalu tersebut. [11]
Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini, Kontowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini islam, menurut pendekatan sejarah
Melalui pendekatan sejarah ini, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini, seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historisya karena pemahaman seperti itu akan menyesatkan orang yang memahaminya. Seseorang yang ingin memahami Alquran secara benar misalnya. Seseorang yang bersangkutan tersebut harus mempelajari sejarah turunnya Alquran atau kejadian yang mengiringi turunnya Alquran yang kemudian disebut ilmu Asbab al-Nuzul (Ilmu tentang sebab-sebab turunnya ayat-ayat alquran). Dengan ilmu ini, seseorang dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenan dengan hokum tertentu dan ditunjukkan untuk memelihara syariat dari kekeliruan memahaminya (Manna Khalil al-Qaththan, 2006:79).  [12]
6.    Pendekatan Kebudayaan
 Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat. Menurut Sultan Takdir Alisjahbana mengatakan kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang terjadi dari unsur berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan segala kecakapan lain, yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. [13]
Dengan demikian kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan menggerakkan segenap potensi batin yang dimilikinya. Di dalam kebudayaan terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istiadat dan sebagainya yang digunakan acuan oleh seseorang dalam menjawab berbagai masalah yang dihadapinya. Kebudayaan tampil sebagai pranata secara terus menerus dipelihara pembentukkannya dan generasi selanjutnya yang diwarisi kebudayaan  tersebut.
Kebudayaan digunakan untuk memahami apa yang terdapat pada dataran empirisnya atau agama yang tampil dalam bentuk formal yang menggejala di masyarakat. Melalui pemahaman terhadap kebudayaan tersebut, seorang dapat mengamalkan ajaran agama. Kita misalnya, menjumpai kebudayaan berpakaian, bergaul, bermasyarakat, dan sebagainya kedalam produk kebudayaan tersebut, unsur agama ikut berintegrasi. Dalam pakaian model hijab, kebaya atau lainnya dapat dijumpai dalam pengalaman agama. Sebaliknya, tanpa adanya unsur budaya, agama akan sulit dilihat sosoknya secara jelas. Di DKI Jakarta misalnya, kita jumpai kaum prianya ketika menikah mengenakan baju ala Arab, sedangkan wanitanya mengenakan baju ala Cina. Disitu terlihat produk budaya yang berbeda yang dipengaruhi oleh pemahaman keagamaannya.[14]
7.    Pendekatan Psikologi
Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa seorang melalui gejala perilaku yang dapat diamatinya. Menurut Zakiah Daradjad, perilaku seseorang yang tanpa lahiriah karena dipengaruhi keyakinan yang dianutnya. Sikap seorang ketika berjumpa saling mengucapkan salam, menutup aurat dan sebagainya merupakan gejala keagamaan yang dijelaskan melalui ilmu jiwa agama. [15]
Dengan mengetahui pengaruh salat, puasa, zakat, haji dan lain-lain melalui ilmu jiwa dapat disusun langkah-langkah baru yang efisien lagi dalam menanamkan ajaran agama. Itulah sebabnya, ilmu jiwa ini banyak digunakan sebagai alat untuk menjelaskan gejala sikap keagamaan seseorang.
Sumber pokok untuk mengumpulkan data ilmiah dapat diambil dari :
1.      Pengalaman dari orang-orang yang masih hidup.
2.      Apa yang kita capai dengan meneliti diri kita sendiri.
3.      Riwayat hidup yang ditulis sendiri oleh orang yang bersangkutan/yang ditulis oleh para ahli agama.
8.    Pendekatan Interdisipliner
Pendekatan interdisipliner adalah kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan atau sejumlah pendekatan atau sudut pandang (prespektif). Misalnya menggunakan pendekatan sosiologis, historis dan normatif secara bersama. Pentingnya penggunaan pendekatan ini semakin disadari keterbatasan dari hasil-hasil penelitian yang hanya menggunakan satu pendekatan tertentu. [16]
Misalnya dalam mengkaji teks agama, seperti al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan tekstual, tetapi bisa dilengkapi dengan pendekatan sosiologis dan historis sekaligus. Demikian juga dalam menyelesaikan hukum (status) ternak, pertanian, dan semacamnya. Untuk menetapkan hukumya harus dipahami lebih dahulu secara lengkap dari sisi ilmu peternakan atau pertanian. Kemudian ditetapkan status hukumnya.
Contoh dengan pendekatan ini adalah ketika ingin mengetahui sisten kekeluargaan apa yang hendak dibangun islam dengan menggunakan pendekatan antropologi-sosial yang dilakukan Hazairin. Dapat disimpulkan bahwa sistem kekeluargaan yang hendak dibangun Islam adalah sistem bilateral atau parental.
Cara kerja pendekatan ini adalah melacak ayat Alquran yang berbicara wanita-wanita yang boleh dinikahi dan ayat Alquran yang membicarakan warisan. Kemudian bahasan dilanjutkan dengan menelaah sistem kekeluargaan yang berlaku dalam masyarakat lengkap dengan ciri masing-masing. Berdasarkan ciri-ciri ini kemudian dicarikan sistem mana yang cocok dengan ciri yang dibangun Islam. Berdasarkan kajian yang dilakukan ternyata Islam hendak membangun masyarakat bilateral.
Contoh lain penggunaan pendekatan Interdisipliner adalah dalam menjawab status hukum aborsi. Untuk melihat status hukum aborsi perlu dilacak nash Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW tentang larangan pembunuhan anak dan proses atau tahap-tahap penciptaan manusia. Sebab, tindakan aborsi diidentikkan dengan tindakan pembunuhan anak. Dalam memahami proses penciptaan manusia dihubungkan dengan teori embriologi.[17]



















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Islam merupakan sebuah sistem universal yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Sebagai sebuah sistem, Islam memiliki sumber ajaran yang lengkap, yakni Alquran dan Hadis. Untuk memahami Alquran dan Hadis sebagai sumber ajaran Islam, maka diperlukan berbagai pendekatan metodologi pemahaman Islam yang tepat, akurat, dan responsible.
Saat ini, kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Harapan dan tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normatif dilengkapai dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain yang secara operasional konseptual dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.
Dalam melakukan studi terhadap islam diperlukan metodologi dan pendekatan yang tepat agar dihasilkan suatu kesimpulan mengenai islam dalam keseluruhan aspek ajarannya secara tepat. Dari uraian tersebut, kita dapat melihat bahwa agama dapat dipahami melalui berbagai pendekatan. Dengan pendekatan itu, semua orang akan sampai pada agama. Agama bukan hanya monopoli kalangan teologi dan normatif belaka tetapi dapat dipahami semua orang sesuai dengan pendekatan dan kesanggupan yang dimilikinya. Dari keadaan demikian, seseorang akan memiliki kepuasan dari agama karena seluruh persoalan hidupnya mendapat bimbingan dari agama.





DAFTAR PUSTAKA

Tabrani. 2015. Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Muhaimin. 2012. Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan. Jakarta: Kencana.
Anwar, Rosihin dkk. 2017. Pengantar Studi Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.




[1] Tabrani, Arah Baru Metodologi Studi Islam (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015), hlm.


[2] Tabrani, Arah Baru Metodologi Studi Islam (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015), hlm.
[3] Tabrani, Arah Baru Metodologi Studi Islam (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015), hlm.
[4] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 72-79
[5] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 72-79.
[6] Ibid, hlm. 79-82.
[7] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 79-82.
[8] Ibid, hlm. 83-86.
[9] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 83-86.
[10] Muhaimin, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan (Jakarta: Kencana, 2012), hlm. 13.
[11] Muhaimin, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan (Jakarta: Kencana, 2012), hlm. 12-13
[12] Tabrani, Arah Baru Metodologi Studi Islam (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015), hlm.
[13] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 92-93.
[14] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 92-93.
[15] Ibid, hlm. 93-95.
[16] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 221-225.
[17] Rosihin Anwar dkk, Pengantar Studi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hlm. 221-225.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Novel "Anak ku di Potret Malaikat"

Materi Pancasila

Kebijakan One Belt One Road